Menyikapi Toxic Masculinity melalui Fenomenologi Merleau Ponty
DOI:
https://doi.org/10.46929/graciadeo.v6i2.204Kata Kunci:
equality, phenomenology of Merleau Ponty, toxic masculinity, kesetaraan, fenomenologi Merleau PontyAbstrak
Toxic Masculinity is a problem that is rooted in false rationalization. This rationalization becomes crystallization since the masses agree on it together. As a result, it becomes an objective view and lifestyle. The Apostle Paul proclaimed equality in this regard, of course, equality when living in Jesus Christ. This is the foundation for those of us who believe in Him. However, this equality must be felt and experienced. This research uses a library research method with a qualitative approach. Merleau Ponty's phenomenology invites you to feel that feeling "sense," not to replace that feeling, but to accept it and then exist. Because individuals have bodies, the body is directed at "being in the world," and we must "be in the world."
Abstrak
Toxic Masculinity merupakan permasalahan yang berakar dari rasionalisasi keliru. Rasionalisasi tersebut menjadi kristalisasi, semenjak massa menyepakatinya bersama, alhasil itu menjadi pandangan dan gaya hidup yang objektif. Rasul Paulus mengumandakan akan kesetaraan terkait hal ini, tentunya kesetaraan ketika hidup di dalam Yesus Kristus. Ini menjadi landasan bagi kita yang beriman padaNya. Namun, kesetaraan tersebut harus dirasakan dan dialami. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan atau library research, dengan pendekatan kualitatif. Fenomenologi Merleau Ponty mengajak untuk merasakan rasa itu “sense”, bukan untuk mengganti rasa itu, tetapi menerima kemudian bereksistensi. Karena individu memiliki tubuh; tubuh tersebut terarah “ber ada-di-dunia” dan kita harus “meng ada-di-dunia”.
Referensi
Azisi, Ali Mursyid. “Maurice Merleau-Ponty Dan Hasil Pemikirannya.” Jurnal Yaqzhan 6 (2020).
Hansen, G. Walter. The IPV New Testament Commentary Series. IL: Intervarsity Press, 1994.
Hardiman, F. Budi, ed. Filsafat Untuk Para Profesional. 3rd ed. Jakarta: Kompas penerbit buku, 2022.
Hermawan, Irfan, and Nur Hidayah. “Toxic Masculinity Dan Tantangan Kaum Lelaki Dalam Masyarakat Indonesia Modern.” DIMENSIA: Jurnal Kajian Sosiologi 12 (2023). https://doi.org/10.21831/dimensia.v12i2.60991.
Khusna, Nurul. Jean-Paul Sartre Sebuah Biografi. Yogyakarta: Sociality, 2020.
Mandacan, Yehuda. “Kesetaraan Pria Dan Wanita (Gender) Menurut Alkitab.” LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial Dan Budaya 2, no. 1 (August 8, 2020): 42–58. https://doi.org/10.53827/lz.v2i1.11.
Novalina, Martina. “Kajian Isu Toxic Masculinity Di Era Digital Dalam Perspektif Sosial Dan Teologi.” Jurnal EFATA: Jurnal Teologi Dan Pelayanan 8 (2021).
Nurohim, Sri. “Identitas Dan Peran Gender Pada Masyarakat Suku Bugis.” SOSIETAS 8, no. 1 (August 16, 2018). https://doi.org/10.17509/sosietas.v8i1.12499.
Ponty, Maurice Merleau. Phenomenology of Perception. Translated by Colin Smith. New York: Routledge, 2002.
Purnamasari, Elvira. “Kebebasan Manusia Dalam Filsafat Eksistensialisme(Studi Komparasi Pemikiran Muhammad Iqbal Danjean Paul Sartre).” Manthiq 2 (2017).
Sebastian, Tanius. “Mengenal Fenomenologi Persepsi Merleau-Ponty Tentang Pengalaman Rasa.” MELINTAS 32, no. 1 (May 19, 2016): 94. https://doi.org/10.26593/mel.v32i1.1927.94-115.
Sheren, Annisa Octavi. “Toxic Masculinity: Cikal Bakal Kekerasan Oleh Laki-Laki.” Wacana, 2020. https://wacana.org/toxic-masculinity-cikal-bakal-kekerasan-oleh-laki-laki/.
UNY, HIMAPSI. “International Men’s Day 2020.” HIMAPSIKOLOG, 2020. http://himapsikologi.student.uny.ac.id/international-mens-day-2020/.
Wandi, Gusri. “Rekonstruksi Maskulinitas: Menguak Peran Laki-Laki Dalam Perjuangan Kesetaraan Gender.” Kafa`ah: Journal of Gender Studies 5, no. 2 (November 21, 2015): 239. https://doi.org/10.15548/jk.v5i2.110.
Yusanta, Dita Anggrahinita. “Fluiditas Maskulinitas Dan Feminitas Dalam Boyband K-Pop Sebagai Produk Industri Budaya.” Kafa`ah: Journal of Gender Studies 9, no. 2 (December 27, 2019): 205. https://doi.org/10.15548/jk.v9i2.294.


